Oleh HW
Di
sekitar tahun 2001, saya pernah membaca buku karangan Pak Gede Prama,
yang berjudul : Memimpin dengan Hati. Sebuah buku yang merupakan hasil
dari perenungan beliau selama bertahun-tahun ini, menyatakan: fondasi
kepemimpinan yang kokoh terletak di hati. Dari dalam hati inilah
bercokol jiwa, sikap, dan sekaligus semangat yang tergambar dalam cara
kepemimpinan sehari-hari. Bekerja dengan menggunakan hati memang menjadi sesuatu yang sangat langka akhir-akhir ini. Desakan
ekonomi serta ketatnya persaingan, membuat seorang pemimpin harus
berhitung matang tentang rasio-rasio untung-rugi setajam mungkin secara
matematis…Di sini, biasanya hati tidak lagi berbicara.
Sesungguhnya, terlepas dari buah pikiran Pak Gede itu, bekerja yang
hanya mengutamakan keterampilan teknis murni dan berorientasi pada
faktor untung-rugi, sudah tidak laku lagi.
Terbukti pula, pemimpin yang berhasil adalah yang tidak hanya didukung oleh keterampilan teknis dan kepintaran belaka. Yang tak kalah menentukan adalah emotional intelligence (EQ) yang tinggi.
EQ adalah kesanggupan memahami diri sendiri. Seseorang yang memiliki
self-awareness yang baik akan mampu mengendalikan dirinya sendiri
(self-control) secara efektif. Self-control di sini bukanlah kemampuan
seseorang menekan sedalam-dalamnya perasaan di lubuk hati, melainkan
kesanggupan mengelola segenap emosinya secara aktif.
Pada seorang pemimpin, EQ menjadi dominan lantaran ia bekerja berada
dalam satu kelompok, yang dituntut menunjukkan kerjasama team yang
solid serta hasil kerja yang efektif. Hanya pemimpin yang terampil dan
mampu mengendalikan emosinya secara positif atau bisa bekerja dengan
hati, yang dapat diandalkan keberhasilannya.
Beberapa komponen EQ yang
dapat menjadi ukuran sukses seorang pemimpin adalah:
Mawas diri, yang
dimaksudkan disini adalah kesediaan mengakui kekuatan,
kelemahan, emosi, kebutuhan dan dorongan diri sendiri. Umumnya ia tahu
apa yang diinginkan, dan mengapa menginginkannya. Sehingga,
pemimpin ini akan lebih tegas dan fokus pada tujuan dan sasaran. Jika
ada sesuatu yang dianggap kurang mendukung sasaran, dengan cepat ia
memahami persoalan dan mengubah "kemarahan" menjadi hal yang
konstruktif.
Pengendalian diri : ini merupakan komponen EQ yang membebaskan seseorang dari cengkeraman emosi.
Bahkan, pemimpin yang dapat mengendalikan diri mampu mengubah konflik
emosional menjadi solusi atau aktivitas yang bermanfaat. Pertimbangan
yang patut dipercayai, pemimpin yang dapat mengendalikan diri cenderung rasional dan mampu menciptakan lingkungan saling percaya dan adil.
Dengan demikian, ia dapat meredam pertentangan antar anggota di dalam
suatu organisasi. Di bawah pemimpin yang bisa mengendalikan diri,
anggota team-pun tidak akan gampang mengumbar emosi.
Motivasi : Komponen
ini harus dimiliki pemimpin yang ber-EQ tinggi. Motivasi memacu orang
mencapai tuntutan dirinya dan tuntutan orang lain. Motivasi bisa datang
dari dalam diri maupun dari luar. Jika seorang pemimpin termotivasi
dengan baik, ia akan terlihat senang dengan pekerjaannya, senang
mencari tantangan kreatif, serta tentu saja senang meningkatkan kinerja
dan mengontrol tingkat keberhasilannya.
Akibat lain, pemimpin seperti
ini tidak mudah frustasi dan depresi akibat kegagalan yang dialami.
Empati : Dari semua komponen EQ, empati menempati tempat yang paling
mudah dikenali. Empati di sini bukan berarti menyetujui emosi team atau
memuaskan mereka begitu saja, melainkan memperhatikan aspirasi karyawan
bersama faktor-faktor lain dalam membuat keputusan.
Ada tiga alasan mengapa empati sangat penting dalam situasi sekarang, yaitu :
(1) peningkatan kebutuhan terhadap kelompok kerja
(2) kecepatan arus globalisasi
(3) kebutuhan menahan anggota team yang berbakat.
Ini merupakan pencetusan dari dimensi-dimensi EQ lainnya (mawas diri, pengendalian diri, motivasi internal dan empati).
Pemimpin cenderung efektif mengelola hubungan kerja bila mereka bisa
memahami orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan berempati terhadap
orang lain.
Ketrampilan Sosial : Mereka yang berketerampilan sosial cenderung memiliki
pergaulan luas, pandai menemukan cara berhubungan dengan berbagai tipe
orang, dan yakin bahwa tidak ada hal penting yang dilakukan sendirian.
Orang-orang yang berketerampilan sosial bisa dikatakan sebagai ahli mengelola team dengan
baik, karena empati mereka berfungsi. Mereka juga ahli mempersuasi
orang lain dan ini merupakan wujud kombinasi dari mawas diri,
pengendalian diri dan empati.
Dengan keterampilan itu, diyakini dapat
mengembangkan kecakapan yang dipahami sebatas keterampilan teknis dan
kemampuan pengetahuan seseorang menjadi kompetensi yang mempunyai
cakupan lebih komprehensif, terdiri dari: motif, sifat, citra-diri,
peran sosial, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi inilah yang
diharapkan menjadi karakter mendasar seorang pemimpin. Sebab, ia bisa
mendorong lahirnya kinerja yang efektif dan superior dalam pekerjaan.
Nah, bukankah karakter-karakter seperti itu yang kita dambakan dari
pemimpin kita?
Sebelum saya lupa : Marilah kita bersama-sama
belajar dan menjadikan diri kita masing-masing untuk menjadi Pemimpin
yang memimpin dengan suara hatinya…dan selalu mawas diri.
——— ditulis oleh sahabatku, Bro HW yang berasal dari kota eh kampung yang sama, Penggemar Motor yang gila-gilaan, Juga seorang Ayah dan Suami yang baik, katanya…
…Sukses terus ya Bro…All the best for you…Yok opo reks kabare, wis suwe gak metu prejengane sampeyan reek??? hahahaha…
*dengan sedikit revisi redaksional.
Recent Comments