Archive for August 24th, 2006

24
Aug

Memimpin dengan HATI

Oleh HW


Di
sekitar tahun 2001, saya pernah membaca buku karangan Pak Gede Prama,
yang berjudul : Memimpin dengan Hati. Sebuah buku yang merupakan hasil
dari perenungan beliau selama bertahun-tahun ini, menyatakan: fondasi
kepemimpinan yang kokoh terletak di hati. Dari dalam hati inilah
bercokol jiwa, sikap, dan sekaligus semangat yang tergambar dalam cara
kepemimpinan sehari-hari
. Bekerja dengan menggunakan hati memang menjadi sesuatu yang sangat langka akhir-akhir ini. Desakan
ekonomi serta ketatnya persaingan, membuat seorang pemimpin harus
berhitung matang tentang rasio-rasio untung-rugi setajam mungkin secara
matematis…Di sini, biasanya hati tidak lagi berbicara.

Sesungguhnya, terlepas dari buah pikiran Pak Gede itu, bekerja yang
hanya mengutamakan keterampilan teknis murni dan berorientasi pada
faktor untung-rugi, sudah tidak laku lagi.

Terbukti pula, pemimpin yang berhasil adalah yang tidak hanya didukung oleh keterampilan teknis dan kepintaran belaka. Yang tak kalah menentukan adalah emotional intelligence (EQ) yang tinggi.

EQ adalah kesanggupan memahami diri sendiri. Seseorang yang memiliki
self-awareness yang baik akan mampu mengendalikan dirinya sendiri
(self-control) secara efektif. Self-control di sini bukanlah kemampuan
seseorang menekan sedalam-dalamnya perasaan di lubuk hati, melainkan
kesanggupan mengelola segenap emosinya secara aktif.

Pada seorang pemimpin, EQ menjadi dominan lantaran ia bekerja berada
dalam satu kelompok, yang dituntut menunjukkan kerjasama team yang
solid serta hasil kerja yang efektif. Hanya pemimpin yang terampil dan
mampu mengendalikan emosinya secara positif atau bisa bekerja dengan
hati, yang dapat diandalkan keberhasilannya.

Beberapa komponen EQ yang
dapat menjadi ukuran sukses seorang pemimpin adalah:

Mawas diri, yang
dimaksudkan disini adalah kesediaan mengakui kekuatan,
kelemahan, emosi, kebutuhan dan dorongan diri sendiri. Umumnya ia tahu
apa yang diinginkan, dan mengapa menginginkannya
. Sehingga,
pemimpin ini akan lebih tegas dan fokus pada tujuan dan sasaran. Jika
ada sesuatu yang dianggap kurang mendukung sasaran, dengan cepat ia
memahami persoalan dan mengubah "kemarahan" menjadi hal yang
konstruktif.

Pengendalian diri :  ini merupakan komponen EQ yang membebaskan seseorang dari cengkeraman emosi.
Bahkan, pemimpin yang dapat mengendalikan diri mampu mengubah konflik
emosional menjadi solusi atau aktivitas yang bermanfaat. Pertimbangan
yang patut dipercayai, pemimpin yang dapat mengendalikan diri cenderung rasional dan mampu menciptakan lingkungan saling percaya dan adil.
Dengan demikian, ia dapat meredam pertentangan antar anggota di dalam
suatu organisasi. Di bawah pemimpin yang bisa mengendalikan diri,
anggota team-pun tidak akan gampang mengumbar emosi.

Motivasi
: Komponen
ini harus dimiliki pemimpin yang ber-EQ tinggi. Motivasi memacu orang
mencapai tuntutan dirinya dan tuntutan orang lain. Motivasi bisa datang
dari dalam diri maupun dari luar. Jika seorang pemimpin termotivasi
dengan baik, ia akan terlihat senang dengan pekerjaannya, senang
mencari tantangan kreatif, serta tentu saja senang meningkatkan kinerja
dan mengontrol tingkat keberhasilannya.
Akibat lain, pemimpin seperti
ini tidak mudah frustasi dan depresi akibat kegagalan yang dialami.

Empati : Dari semua komponen EQ, empati menempati tempat yang paling
mudah dikenali. Empati di sini bukan berarti menyetujui emosi team atau
memuaskan mereka begitu saja, melainkan memperhatikan aspirasi karyawan
bersama faktor-faktor lain dalam membuat keputusan.

Ada tiga alasan mengapa empati sangat penting dalam situasi sekarang, yaitu :

(1) peningkatan kebutuhan terhadap kelompok kerja

(2) kecepatan arus globalisasi

(3) kebutuhan menahan anggota team yang berbakat.

Ini merupakan pencetusan dari dimensi-dimensi EQ lainnya (mawas diri, pengendalian diri, motivasi internal dan empati).
Pemimpin cenderung efektif mengelola hubungan kerja bila mereka bisa
memahami orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan berempati terhadap
orang lain.

Ketrampilan Sosial : Mereka yang berketerampilan sosial cenderung memiliki
pergaulan luas, pandai menemukan cara berhubungan dengan berbagai tipe
orang, dan yakin bahwa tidak ada hal penting yang dilakukan sendirian.
Orang-orang yang berketerampilan sosial bisa dikatakan sebagai ahli mengelola team dengan
baik, karena empati mereka berfungsi. Mereka juga ahli mempersuasi
orang lain dan ini merupakan wujud kombinasi dari mawas diri,
pengendalian diri dan empati.

Dengan keterampilan itu, diyakini dapat
mengembangkan kecakapan yang dipahami sebatas keterampilan teknis dan
kemampuan pengetahuan seseorang menjadi kompetensi yang mempunyai
cakupan lebih komprehensif, terdiri dari: motif, sifat, citra-diri,
peran sosial, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi inilah yang
diharapkan menjadi karakter mendasar seorang pemimpin. Sebab, ia bisa
mendorong lahirnya kinerja yang efektif dan superior dalam pekerjaan.
Nah, bukankah karakter-karakter seperti itu yang kita dambakan dari
pemimpin kita?

Sebelum saya lupa : Marilah kita bersama-sama
belajar dan menjadikan diri kita masing-masing untuk menjadi Pemimpin
yang memimpin dengan suara hatinya…dan selalu mawas diri.

——— ditulis oleh sahabatku, Bro HW  yang  berasal dari kota eh kampung yang sama, Penggemar Motor yang gila-gilaan, Juga seorang  Ayah dan Suami yang baik, katanya…
…Sukses terus ya Bro…All the best for you…Yok opo reks kabare, wis suwe gak metu prejengane sampeyan reek???  hahahaha…

*dengan sedikit  revisi redaksional.

24
Aug

bayang warna

Berikan aku sedikit waktu
agar kutuang jejak hati dan suara jiwaku


yang ajari aku tertatih sejuta upaya
untuk dengarkan suara-suara, desah-desah,
resah-resah serta gelisah-gelisah
yang tak terucapkan oleh lidah dan bibir
yang tak terdengar oleh telinga

yang tak tumbuhkan kepekaan diri

yang memaksa aku untuk
senantiasa meraba dan memaknai
bayang warna di balik warna, karena
sesungguhnya
sebuah warna tiada pernah tercipta sedemikian.

pahamilah
ia adalah kumpulan dari beberapa
yang lalu menjadi satu
lalu
beberapanya  berbaur menjadi suatu yang lain
lalu
berbaur…saling membaur…mawur
hingga kadang nyaris sulit termaknai  lagi


alangkah kayanya diri sejati jika bisa
memanen aneka warna dibalik warna
menjadikan dunia ini teramat indah syahdu
tertata dan ternikmati..


sungguh bebal pandir jika kita ingkari
semua yang ada dan segala kejadian
menjadikan kita makhluk kaya raya
dengan pengalaman lahir batin
hingga kita seharusnya malu
jika tak pandai bersyukur…

24
Aug

selagi masih ada waktu

dengarkan jika jiwamu yang berkata :
….dian lentera yang kau pegang bukan milik-mu
….nyanyian yang kau senandungkan bukan ciptaan jiwa sejati-mu
….bahkan jika kau bawa cahaya, tak berarti kau adalah sinar


kita adalah manusia-manusia kerdil
bukan si raksasa, raja berkuasa di alam maya
takkah terlalu miskin kita untuk membayar?
takkah terlalu kaya kita untuk berhutang?


kita adalah hanya diri kita…
makhluk kerdil, papa, terbiasa alpa, bahkan sangat hina
terlalu banyak kesalahan, carut marut dalam peristiwa lalu
tiada sadar giring halus kita terpuruk dalam palung
kemiskinan jiwa…


nampak detak waktu tak hendak beri pemakluman
….raih tanganku, kita tautkan hati dan tekad
untuk menjadikan diri kita
berubah sebaliknya.


selagi masih ada waktu,
meski hanya tinggal sekejap lagi


————————-


*I miss u, dear….




 

August 2006
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Pages