Archive for September 27th, 2006

27
Sep

cinta sepenggal damba

——- VISION OF YOU

mungkin telah sampai luka ini di titik tiada
tak ada lagi perih menjerit gundahkan jiwa
apalagi tetesan airmata darah. merah samar


inilah sebuah pilihan. limpahan cinta tulus
dengan pengorbanan rasa jiwa, lara dan kecewa
mengendap dalam emosi surut membara
mengedip secercah harap, tak adakah waktu tersisa?
walau hanya sekejap saja?  pun bila sekedip mata?
untuk memilih tak mencintainya saja jika diri bisa…


ini adalah sebuah pilihan, tiada pilihan untuk tak cinta
tapi bagaimana bisa dia memilih tak cinta?
sedang cinta itu terlekat menyatu dalam jiwa raga
dia tak bisa dustai nurani, dan itu bukan salahnya,

pro : DR, Princess, and  all women who have a lots of love,
I love U, more than I can say, honey honey!

27
Sep

penganan (jajanan) ILMU

                  …..PENGETAHUAN

Kalimat di atas adalah aturan pertama yang tertulis di ruang belajar
di mana pun adanya. Pengetahuan itulah yang dicari untuk dimiliki.
Itulah yang dicari untuk dibaca, itu yang dicari untuk dipelajari dan
yang akan dipelajari. Selalu dicari karena belajar tak mengenal waktu.

Wajah kita sesungguhnya mengajarkan pada kita tentang bagaimana
untuk mendengar. Kita punya dua telinga pada sisi yang berlawanan
dari wajahmu, satu di bagian wajah kanan dan satu di bagian kiri.
Kedua telinga berhubungan langsung dengan pikiran, artinya apa yang
didengar oleh telinga akan masuk ke dalam otak. Dengan kata lain,
kita harus mendengar dari dua sisi, jika  hanya dari satu sisi saja,
maka kita tak akan pernah memahami apa yang kita dengarkan.

Dikatakan bahwa sedalam pemahaman murid tidak seperti gurunya.
Mendengarkan dengan lengkap adalah dangkal penerimaanya.
Apapun yang didapat dari  pembicaraan oleh guru adalah sebuah
kebingungan. Sebuah tanda tanya. Kita harus mampu menciptakan
suasana keheningan. Janganlah bicara dengan guru ketika dia sedang
berbicara.
Dengarkan dalam hening. Itulah bagian terpenting 
untuk waktu-waktu memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran kita.
Kita harus mendengarkan guru dengan fokus dan  konsentrasi,
maka kita akan mendapat manfaat penuh atas kebijaksanaannya.
Dengan begitu, berarti kita bisa memfokuskan diri dalam membaca
pikiran gurunya, karena dengan menggabungkan  penglihatan (mata)
dengan telinga maka akan terlihat sebuah gambaran tertentu tentang
apa yang telah dikatakan guru tadi. (berguna sebagai pengingat)

Ingatlah, pada saat ego kita tengah menyelimuti diri kita, maka
apa yang dibicarakan oleh seorang guru meski dia bicara lama,
maka kita tak akan dapat memahami sepatah kata pun
.

Memori singkat yang terjadi pada kita adalah yang terhebat, paling
serba guna, paling kuat, alat yang paling fleksibel, yang dapat kita
gunakan dalam keseharian kita.

Informasi seperti uang, kedudukan, atau senjata  dapat dibawa,
dikumpulkan, diperiksa, ditunjuk, dan disimpan. 
Intinya adalah semua itu adalah alat fisik yang akan digunakan.

Pengetahuan bagaikan kekayaan, kekuatan  atau alat perang yang
akan kita pelajari, dipamerkan, ditimbun, diwariskan, dan kadang
diberikan begitu saja, entah banyak atau sedikit.
Intinya adalah hal ini bergantung pada mental dan juga pada sebuah
kemampuan, agar dapat digunakan dengan baik.

Kebijaksanaan seperti kesempurnaan, bangsawan, atau keberanian
hanya dapat dipelajari atau dikembangkan dari dalam.
Intinya, spiritual, kebesaran dari hal-hal  (tak nampak) tersebut
diakui melalui perkembangan kita sebagai pribadi manusia dan ke-
anggunannya atau keelokannya, atau lebih dikenal dengan kharisma.

Informasi adalah perpustakaan anda, pengetahuan adalah sesuatu
yang kita dapatkan darinya. Sedangkan pengetahuan yang didapat
melalui latihan-latihan adalah kebijakan.

Pengetahuan dapat kita cari melalui membaca buku, yang sifatnya
BUKAN UNTUK KESENANGAN BELAKA, misal novel, cerita fiksi,
tetapi memilih buku
UNTUK MENGEJAR PENGETAHUAN seperti buku
-buku filosofi, psikologi, agama, hukum, sosial  dan bidang
akademik lainnya. Dimaksudkan untuk pendalaman materi atau
alat sebagai motivator. Sebaiknya untuk latihan pilihkah buku
yang agak sulit diselesaikan dan sulit diserap (dimengerti),
sehingga terpacu untuk melakukan latihan membaca dengan me-
ngingat poin-poin yang penting  tentang  materi buku itu.
Tak perlu lama, dalam sehari cukup 15 menit saja, dan setiap
hari melakukan proses membaca dan menyerap ini, maka kita
akan mudah mendapatkan pengetahuan yang kita inginkan.


Note :

Kekayaan berupa pengetahuan ini akan memberikan dampak kepada
luas tidaknya wawasan pemikiran kita. Semakin banyak pengetahuan
yang kita dapatkan, maka wawasan kita akan berkembang lebih luas.

Dalam hal pemilihan buku, ada banyak alasan yang melatar-belakangi.
Ada yang suka membaca buku Fiksi, yang tujuannya hanya untuk
bacaan ringan-ringan saja dan untuk kesenangan belaka, misalnya
novel,  majalah, atau cerita fiksi lainnya. Namun ada pula yang
cenderung memilih buku yang lebih berat bobotnya, yaitu Non Fiksi,
yang bisa langsung memberikan informasi atau panduan menuju
pengisian rohani dengan pengetahuan yang lebih luas lagi.

Sesungguhnya saya sendiri merasa heran, mendapatkan fakta
bahwa saya justru tidak suka membaca buku semacam novel,
cerita fiksi lainnya. saya lebih suka membaca buku non fiksi
yang menurut saya lebih praktis dan cepat memberikan infor-
masi atau pengetahuan kepada saya.

Saya tahu di dalam novel pun pasti akan banyak yang bisa kita
dapatkan. Seperti kita belajar tentang sebuah kisah pertem-
puran, atau kisah romans, yang seperti dalam kehidupan kita
sehari-hari, pasti akan kita dapatkan pelajaran. Hanya saja
mungkin karena saya bukan orang sastra, dan karakter pribadi
saya yang tidak romantis (meskipun saya bisa bersikap mesra
sekali), pragmatis dan simple tak berbelit meski analis, maka
menyebabkan saya tidak begitu mampu menikmati novel, dan
pilihan saya  dalam menambah pengetahuan adalah buku-buku
non fiksi, juga artikel yang bisa memberikan informasi praktis.

Saya kadang bermimpi melihat semua anak bangsa, khususnya
para anak-anak Indonesia usia sekolah begitu rakus karena
haus dahaga pengetahuan yang sudah menjadi kebiasaan mereka
.
Mereka, anak-anak itu adalah pemimpin-pemimpin di masa datang
di mana kita yang telah tua-tua ini nanti akan menitipkan sebuah
negeri yang indah penuh karunia bernama INDONESIA pada mereka.
Saat ini, saya memang melihat mereka rakus dan dahaga, hanya
mereka masih sangat membutuhkan makanan dan minuman yang
untuk sekedar bisa lanjutkan hidup , makanan bagi tubuh, bagi
raga mereka, dan bukan jiwa mereka, rohani mereka..

Saya seperti sedang memandang layar terkembang pada sebuah
perahu besar sedang berada di atas laut, dengan ombak besar
menggulung-gulung, layar terkembang nampak timbul tenggelam
Layar memang sudah terkembang, namun masih setia bergoyang.

———- Jakarta , 29 september 2006  \ RR

27
Sep

p : sayap yang tak pernah patah

SAYAP YANG TAK PERNAH PATAH
By: Anis Matta   
————————————

Mari kita berbicara tentang orang-orang yang
patah hati. Atau kasihnya tak sampai.
Atau cintanya ditolak.
Seperti sayap-sayap Gibran yang patah.
Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang
kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam.
Atau cinta Qais dan Laila yang membuat
mereka majnun, lalu mati. Atau jangan-
jangan ini juga cerita tentang cintamu
sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau
layu tak berbalas.


Itu cerita cinta yang digali dari mata air airmata.
Dunia tidak merah jambu disana!. Hanya ada
Qais yang telah majnun dan meratap ditengah
gurun kenestapaan sembari memanggil burung-
burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak
pernah patah. Kasih selalu sampai disana.
Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah
ada cinta di hati yang lain, kata Rumi,
Sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk
tanpa tangan yang lain. Mungkin Rumi bercerita
tentang apa yang seharusnya.
Sementara kita menyaksikan fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah,
maka cinta pada yang lain hanya upaya
menunjukkan cinta pada-NYA, pengejawantahan
ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya
membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat:
kita tidak perlu kecewa atau terhina dengan
penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih
kandas karena takdir-NYA
. Sebab disini kita
justru sedang melakukan sebuah pekerjaan jiwa
yang besar dan agung: Mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta
tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah
kesempatan memberi yang lewat.
Hanya itu.
Setiap kesempatan semacam itu dapat terulang.
Selama kita memiliki cinta, memiliki sesuatu yang
dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau
ketidaksampaian jadi tidak relevan.
Ini hanya murni masalah waktu.
Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya:
Apakah yang akan kuberikan?.. tentang
kepada siapa sesuatu itu diberikan, itu menjadi
sekunder.


Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita
lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah.
Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita
menggantungkan harapan kebahagiaan hidup
dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia
menolak untuk hidup bersama, itu lantas
menjadi  kesengsaraan.
Kita menderita bukan karena kita mencintai.
tapi karena kita menggantungkan sumber
kebahagiaan kita pada  kenyataan bahwa
orang lain mencintai dia.
(atau dia mencintai orang lain\RR)




 

September 2006
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Archives

Pages