27
Sep
06

p : sayap yang tak pernah patah

SAYAP YANG TAK PERNAH PATAH
By: Anis Matta   
————————————

Mari kita berbicara tentang orang-orang yang
patah hati. Atau kasihnya tak sampai.
Atau cintanya ditolak.
Seperti sayap-sayap Gibran yang patah.
Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang
kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam.
Atau cinta Qais dan Laila yang membuat
mereka majnun, lalu mati. Atau jangan-
jangan ini juga cerita tentang cintamu
sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau
layu tak berbalas.


Itu cerita cinta yang digali dari mata air airmata.
Dunia tidak merah jambu disana!. Hanya ada
Qais yang telah majnun dan meratap ditengah
gurun kenestapaan sembari memanggil burung-
burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak
pernah patah. Kasih selalu sampai disana.
Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah
ada cinta di hati yang lain, kata Rumi,
Sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk
tanpa tangan yang lain. Mungkin Rumi bercerita
tentang apa yang seharusnya.
Sementara kita menyaksikan fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah,
maka cinta pada yang lain hanya upaya
menunjukkan cinta pada-NYA, pengejawantahan
ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya
membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat:
kita tidak perlu kecewa atau terhina dengan
penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih
kandas karena takdir-NYA
. Sebab disini kita
justru sedang melakukan sebuah pekerjaan jiwa
yang besar dan agung: Mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta
tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah
kesempatan memberi yang lewat.
Hanya itu.
Setiap kesempatan semacam itu dapat terulang.
Selama kita memiliki cinta, memiliki sesuatu yang
dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau
ketidaksampaian jadi tidak relevan.
Ini hanya murni masalah waktu.
Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya:
Apakah yang akan kuberikan?.. tentang
kepada siapa sesuatu itu diberikan, itu menjadi
sekunder.


Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita
lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah.
Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita
menggantungkan harapan kebahagiaan hidup
dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia
menolak untuk hidup bersama, itu lantas
menjadi  kesengsaraan.
Kita menderita bukan karena kita mencintai.
tapi karena kita menggantungkan sumber
kebahagiaan kita pada  kenyataan bahwa
orang lain mencintai dia.
(atau dia mencintai orang lain\RR)




1 Response to “p : sayap yang tak pernah patah”


  1. 1    -NINJA STRIKE- September 27, 2006 at 7:45 am

    love all..trust few to none..
    exactly like my daddy and grandpa and ma old priest taught me
    big hugs :)
    bener banget !!! tulisan madam rere

Leave a Reply




 

September 2006
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Archives

Pages