…..PENGETAHUAN
Kalimat di atas adalah aturan pertama yang tertulis di ruang belajar
di mana pun adanya. Pengetahuan itulah yang dicari untuk dimiliki.
Itulah yang dicari untuk dibaca, itu yang dicari untuk dipelajari dan
yang akan dipelajari. Selalu dicari karena belajar tak mengenal waktu.
Wajah kita sesungguhnya mengajarkan pada kita tentang bagaimana
untuk mendengar. Kita punya dua telinga pada sisi yang berlawanan
dari wajahmu, satu di bagian wajah kanan dan satu di bagian kiri.
Kedua telinga berhubungan langsung dengan pikiran, artinya apa yang
didengar oleh telinga akan masuk ke dalam otak. Dengan kata lain,
kita harus mendengar dari dua sisi, jika hanya dari satu sisi saja,
maka kita tak akan pernah memahami apa yang kita dengarkan.
Dikatakan bahwa sedalam pemahaman murid tidak seperti gurunya.
Mendengarkan dengan lengkap adalah dangkal penerimaanya.
Apapun yang didapat dari pembicaraan oleh guru adalah sebuah
kebingungan. Sebuah tanda tanya. Kita harus mampu menciptakan
suasana keheningan. Janganlah bicara dengan guru ketika dia sedang
berbicara. Dengarkan dalam hening. Itulah bagian terpenting
untuk waktu-waktu memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran kita.
Kita harus mendengarkan guru dengan fokus dan konsentrasi,
maka kita akan mendapat manfaat penuh atas kebijaksanaannya.
Dengan begitu, berarti kita bisa memfokuskan diri dalam membaca
pikiran gurunya, karena dengan menggabungkan penglihatan (mata)
dengan telinga maka akan terlihat sebuah gambaran tertentu tentang
apa yang telah dikatakan guru tadi. (berguna sebagai pengingat)
Ingatlah, pada saat ego kita tengah menyelimuti diri kita, maka
apa yang dibicarakan oleh seorang guru meski dia bicara lama,
maka kita tak akan dapat memahami sepatah kata pun
.
Memori singkat yang terjadi pada kita adalah yang terhebat, paling
serba guna, paling kuat, alat yang paling fleksibel, yang dapat kita
gunakan dalam keseharian kita.
Informasi seperti uang, kedudukan, atau senjata dapat dibawa,
dikumpulkan, diperiksa, ditunjuk, dan disimpan.
Intinya adalah semua itu adalah alat fisik yang akan digunakan.
Pengetahuan bagaikan kekayaan, kekuatan atau alat perang yang
akan kita pelajari, dipamerkan, ditimbun, diwariskan, dan kadang
diberikan begitu saja, entah banyak atau sedikit.
Intinya adalah hal ini bergantung pada mental dan juga pada sebuah
kemampuan, agar dapat digunakan dengan baik.
Kebijaksanaan seperti kesempurnaan, bangsawan, atau keberanian
hanya dapat dipelajari atau dikembangkan dari dalam.
Intinya, spiritual, kebesaran dari hal-hal (tak nampak) tersebut
diakui melalui perkembangan kita sebagai pribadi manusia dan ke-
anggunannya atau keelokannya, atau lebih dikenal dengan kharisma.
Informasi adalah perpustakaan anda, pengetahuan adalah sesuatu
yang kita dapatkan darinya. Sedangkan pengetahuan yang didapat
melalui latihan-latihan adalah kebijakan.
Pengetahuan dapat kita cari melalui membaca buku, yang sifatnya
BUKAN UNTUK KESENANGAN BELAKA, misal novel, cerita fiksi,
tetapi memilih buku UNTUK MENGEJAR PENGETAHUAN seperti buku
-buku filosofi, psikologi, agama, hukum, sosial dan bidang
akademik lainnya. Dimaksudkan untuk pendalaman materi atau
alat sebagai motivator. Sebaiknya untuk latihan pilihkah buku
yang agak sulit diselesaikan dan sulit diserap (dimengerti),
sehingga terpacu untuk melakukan latihan membaca dengan me-
ngingat poin-poin yang penting tentang materi buku itu.
Tak perlu lama, dalam sehari cukup 15 menit saja, dan setiap
hari melakukan proses membaca dan menyerap ini, maka kita
akan mudah mendapatkan pengetahuan yang kita inginkan.
Note :
Kekayaan berupa pengetahuan ini akan memberikan dampak kepada
luas tidaknya wawasan pemikiran kita. Semakin banyak pengetahuan
yang kita dapatkan, maka wawasan kita akan berkembang lebih luas.
Dalam hal pemilihan buku, ada banyak alasan yang melatar-belakangi.
Ada yang suka membaca buku Fiksi, yang tujuannya hanya untuk
bacaan ringan-ringan saja dan untuk kesenangan belaka, misalnya
novel, majalah, atau cerita fiksi lainnya. Namun ada pula yang
cenderung memilih buku yang lebih berat bobotnya, yaitu Non Fiksi,
yang bisa langsung memberikan informasi atau panduan menuju
pengisian rohani dengan pengetahuan yang lebih luas lagi.
Sesungguhnya saya sendiri merasa heran, mendapatkan fakta
bahwa saya justru tidak suka membaca buku semacam novel,
cerita fiksi lainnya. saya lebih suka membaca buku non fiksi
yang menurut saya lebih praktis dan cepat memberikan infor-
masi atau pengetahuan kepada saya.
Saya tahu di dalam novel pun pasti akan banyak yang bisa kita
dapatkan. Seperti kita belajar tentang sebuah kisah pertem-
puran, atau kisah romans, yang seperti dalam kehidupan kita
sehari-hari, pasti akan kita dapatkan pelajaran. Hanya saja
mungkin karena saya bukan orang sastra, dan karakter pribadi
saya yang tidak romantis (meskipun saya bisa bersikap mesra
sekali), pragmatis dan simple tak berbelit meski analis, maka
menyebabkan saya tidak begitu mampu menikmati novel, dan
pilihan saya dalam menambah pengetahuan adalah buku-buku
non fiksi, juga artikel yang bisa memberikan informasi praktis.
Saya kadang bermimpi melihat semua anak bangsa, khususnya
para anak-anak Indonesia usia sekolah begitu rakus karena
haus dahaga pengetahuan yang sudah menjadi kebiasaan mereka.
Mereka, anak-anak itu adalah pemimpin-pemimpin di masa datang
di mana kita yang telah tua-tua ini nanti akan menitipkan sebuah
negeri yang indah penuh karunia bernama INDONESIA pada mereka.
Saat ini, saya memang melihat mereka rakus dan dahaga, hanya
mereka masih sangat membutuhkan makanan dan minuman yang
untuk sekedar bisa lanjutkan hidup , makanan bagi tubuh, bagi
raga mereka, dan bukan jiwa mereka, rohani mereka..
Saya seperti sedang memandang layar terkembang pada sebuah
perahu besar sedang berada di atas laut, dengan ombak besar
menggulung-gulung, layar terkembang nampak timbul tenggelam
Layar memang sudah terkembang, namun masih setia bergoyang.
———- Jakarta , 29 september 2006 \ RR
Pembelajaran adalah satu-satunya kekayaan yang tdk dapat dijarah.
Hanya maut yang dapat meredupkan pelita pengetahuan di dalam diri kita.
Taukah, engkau bahwa..
KEKAYAAN sebuah bangsa BUKAN-lah terletak pada
gemah ripah loh jinawi-nya, melainkan dalam pembelajarannya,
hikmahnya, dan dalam kebenaran anak-anak bangsa..
bener banget madam…
buku yang di bangku sekolah ma perpus itu cuman basic…
pelajaran hidup itu ngga ada buku mannualnya…
nah disitu makanya..bisa keliatan..
paling amit2 sih ngadepin org bebal nan sombong…yg punya pemikiran istilahnya..puhun paya numbuh sendiri..ilmu turun dari langit ye…haddah haddah haddah…(minjem istilahnay pak henry)..mbleduk mbek mbek nih ujung2nya..terus sok tau pula..wah..cape deeee
harta bisa raib madam…
ilmu pengetahuan mesti di cari dan di gali…
marco juga ngga pernah baca novel2 fiksi..pusing ngeliatnya..coba baca satu halaman aja..dah..yah..palagi novel cinta bla bla..astaga…kayanay libet banget gitu,,,mending komik…lucu..hehe
thank you for sharing this blog
big hugs