malam ini,
masih kusisakan dua tiga sendok makananku
meski tak banyak bisa masuk ke dalam perut
sejenak aku tercenung…
adakah nikmat santapan untuk dia saat berbuka puasa?
semoga ramadhan kali ini, berikan dia kebahagiaan.
kukenangkan sepenggal kisah usang, meski belum lama
berselang masa, namun sudah sedemikian banyak kisah
tertuang dalam tumpukan kertas, berlomba dengan takdir
hidup akan tunjukkan padanya satu titik kedamaian abadi
sendiri terseok seret langkah menelusuri perjalanan
di antara keterpadatan proses kerja jiwa ciptakan rasa
runduk dia dalam pencarian cinta sepenggal damba ceria
menikmati malam-malam kelam kian panjang saja terasa
ketika rindukan sepelukan perempuan pujaan dambaan jiwa
akan datang-kah engkau, kekasihku ayu maharani?
dewi bumi penyemangat dan pemberi cahaya hidupku
yang kuyakin kurnia Allah untukku walau datang terlambat
manakala aku kian jatuh terpuruk dan tersungkur berpeluh
darah pada titik nol di jauh kedalaman ruang dan waktu
walau telah kuhangati diri dengan nyala merah api unggun
tetaplah berat jalani hidup jika hati rindukan teman sejati.
kisah demi kisah lagi-lagi membayang di layar pikiranku
segala rona rasa derita, telah sempurna puas tertumpah
mewarnai dinding penuh kutipan biru, bertuliskan jejeran
huruf berdesak berlomba menulis cerita perjuangan hidup
sosok sederhana berkalung indah talenta, yang tumbuh
di tengah angkara gelap malam serta berkawan sunyi sepi
dalam lorong keheningan tempat dia mengeluh pada-Nya,
tetap dengan kesendirian abadinya.
ketika kubaca email, ternyata sangat terlambat kubaca :
maafkan aku,
kuucapkan selamat menjalankan ibadah puasa dan kini
aku pamit meneruskan perjalanan sepiku, menuju sunyi.
doaku selalu untuk kemaslahatanmu senantiasa
rasa kasihku padamu terus kubawa, kulekatkan pada hatiku
agar senantiasa menemaniku menembus terang kesepianku.
———-
tetes airmata menggulir jatuh lembut di tulang pipiku.
entahlah…sudah sampai di mana perjalanannya malam ini
selamat jalan…..doaku selalu untuk kedamaian-mu
pula rasa kasih sayang yang kujaga selalu, biar tak sirna
oleh waktu dan jauhnya perjalanan-mu.
Ternyata Rere hobi nulis yak…
Aduuuh bang Cecep Suenceppp…
lhaaah kan dulu pernah kelas satu ESDE…hehehe..
diajarin nulis kan…INI PERENSTER, INI RERE, INI CECEP…
hehehehe…
cuman jeleknya tuh klo tangan udah nulis
berasa banget kagak bisa brenti gitu….
mpe bingung ndiri…kenapa yakk??..bisa jawab gaak???
Naahhh…Bang nCEP!!..Makasih yaa…