kepada angin timur yang berhembus sepoi
kepada hijau dedaunan yang gulirkan titik embun
dengarkanlah bisikan resah hati ini
ada segenap insan bertanya bimbang
segumpal rasa penasaran menyertainya
bagai sungai bermuara pada satu tanda
tentang rahasia hati-ku.
saat jiwaku riang berdendang kidung cinta
saat airmataku bergulir ke jiwa yang diam
saat tanganku gemulai menggapai mesra
tatap mataku teramat mesra tertuju satu
siapakah gerangan sang perkasa berkuda di sana?
siapakah dia ksatria penjelajah dan penakluk hati?
Sayang…
raguku tak hendak kupertimbangkan, aku pasrah
sekian hati tak sabar meronta bertanya tentangmu
tentang ketulusan dan kedalaman pelabuhan hatiku
tempat dermaga cinta sejatiku telah tertambatkan
tempat di mana seluruh hasratku bisa tertuntaskan
tempat yang selalu kugadangkan, dan kuangankan
keheningan temaniku andai berpulang dalam pelukan
jiwa tegar penyemangat yang kudamba dan kurindui
sosok teguh, bertahan, lembut mesra dan penuh cinta
sesungguhnya, seharusnya aku berbahagia…
Sayang…
tak kubiarkan siapa pun menggantang hatiku seperti
kubiarkan dirimu terkubur indah dalam impianku
memadat dalam ruangan megah di pusat hati sunyiku
perih harus kumatikan perasaan serta getaran jiwa
bergejolak mewujud percik api cinta dan kerinduan
yang kian nyalakan magma gunung suci asmara hati
yang muncrat alirkan ke semua ruang hampa di jiwa
tak sempat lagi kuhela nafas barang sejenak saja
untuk sekedar menikmati indah cinta bersamamu.
Sayang…
aku harus kehilanganmu, tanpa pernah kau kumiliki
namun kau selalu ada di sini, di ruang megah hatiku
engkau tetap raja penguasa jiwaku, seluruh hidupku
anggun berkharisma kau tempati singgasana terindah
dan cinta putihku berpendar bagai cahaya mahkotamu
aku harus melepasmu, meski engkau tak pernah pergi
seperti janji darah atas nama kita yang telah terlanjur
terkutip dalam pelangi sejarah hidup kita…
——————– ———– 04 Oktober 2006 \ RERE
* marilah kita bermimpi tentang kenyataan
marilah kita hidup dalam dunia impian

Recent Comments