Terpekur diriku dalam sunyi di balik kelam hitam malam
kutengok di celah kaca jendela kucoba mencari sinar rembulan
mungkin bisa hangatkan diriku, walau aku tak kedinginan,
tak pula kegerahan, entah, barangkali hatiku yang mulai membeku
ada sisi-sisi hati yang berebut bicara, perjuangkan makna diri
enggan lelah, kulirik sepotong kertas tergeletak menjajakan diri
di meja bundar usang yang sudah berlubang ganda itu…
——————
Aku tak bisa hidup tanpa cinta walau kadang ia tak
membahagiakanku.
Aku penuh hasrat untuk mencinta, walau jalan sudah kupilih dan
kulalukan,
aku kembali merengkuhi jiwa-jiwa yang kesepian. Itulah yang aku
rasakan,
aku merasa seperti itu.
Aku yang tegar selalu melemah oleh cinta yang baru. Aku tak
pernah terpuaskan,
aku mencintai engkau, tapi aku menipu diriku dengan berusaha
mencintai mereka.
Aku berdalih karena aku merasa tak cukup engkau mencintaiku.
Aku ingin dicintai dengan caramu. Bantulah aku agar tak lagi aku
mencari,
puaskan hasratku,
aturlah aku,
jangan biarkan aku membutuhkan orang
lain selain dirimu,
berikan padaku apa yang aku perlukan,
sibukkan aku untuk
mencintaimu,
jangan biarkan aku jatuh cinta lagi selain kepadamu, ……
perbudak aku, jangan biarkan jiwa ini berontak,
jangan biarkan hati ini lari, jangan biarkan
diri berpaling…
Kecintaan ini tetap, sudah terpatri. Aku merasa palsu,
aku muak karena aku tak bisa mencintai lagi
seperti aku mencintai kamu.
Aku tenggelam dalam lautan pencarianku, pencarian
sosok dirimu,
yang bahkan tak bayangmu pun kutemukan.
Aku begitu egois… ya, karena aku bicara tentang aku...
Bukan tentang engkau atau kita
————————–
kabut pekat malam ini menandakan segera jelang datang pagi
bersungut kutanya hatiku sendiri, akankah aku harus terus berjalan?
tiada-kah lelah punggung dan pikiran menyangga kisah-kisah perjalanan
mengiringi kegamangan jiwa yang lelah tentang hal yang tak pasti?
aku berharap pertapa yang kutemui di tengah jalan mengantarku pulang
menuju cinta, yang sungguh kuinginkan dan kurindukan
kecintaan ini tetap, sudah terpatri
——————— RR, Jakarta 10.10.2006
*apakah kehampaan itu terasakan seperti ini
*apakah kesepian itu begini, saat kucari tapi kau tiada…
*terimakasih untuk selalu menanti dan merindui-ku
*thanks to RK for (puisi ke-Aku-anku, 30 Des 2005)
0 Responses to “aku dan ke-AKU-anku”
Leave a Reply