Hampir semua orang ketika diminta membicarakan sebuah kebahagiaan,
maka yang terpikir dalam benak mereka adalah sebuah hal terkait erat
dengan kesempurnaan. Sempurna adalah mendapatkan nilai paling tinggi
di dalam penilaian kualitas kehidupan diri seseorang. Kesempurnaan ada-
lah tataran keadaan dan kualitas yang ingin dicapai oleh setiap orang,
dalam setiap aspek di kehidupannya. Kesempurnaan adalah sesuatu yang
selalu dikejar untuk dicapai oleh manusia. Semua belajar dan berusaha
keras, bahkan kadang terlalu keras untuk HANYA demi meraih kesempur-
naan hidup. Seakan beranggapan bahwa kesempurnaan adalah tujuan
sekaligus syarat untuk berbahagia dalam hidup manusia yang singkat ini,
sehingga wajar muncul tekad bahwa sangatlah tidak masuk akal bagi kita
membiarkan hidup kita seperti sia-sia belaka dan tak bisa kita nikmati
jika kita tidak sempurna, so kita harus melakukan apa saja agar sempurna.
Anggapan KITA HARUS SEMPURNA…itulah pikiran tentang kebahagiaan.
Tapi sesungguhnya…cobalah perhatikan sekeliling kita, adakah seorang
perfeksionis absolut yang hidupnya dipenuhi ketenangan, ketentraman dan
kenyamanan?
Kebutuhan untuk mencapai kesempurnaan dan tuntutan atas kesejahteraan
hidup, semakin jelas menjadi saling bertentangan. Bagaimana tidak?
Saat kapan pun kita akan terikat kontrak untuk melakukan sesuatu dengan
cara tertentu, cara baru yang diupayakan hasil lebih baik dari sebelumnya.
Pendek kata, dalam pikiran kita selalu muncul kata-kata…kita akan selalu
dan terus selalu..kita belajar dan terus belajar…kita akan bekerja dan terus
bekerja…dan sebagainya. Sepertinya positif jika kita bicara hal berkaitan
dengan motivasi. Sangat jelas emua orang butuh motivasi untuk berjuang.
Untuk apa semua itu kita lakukan? …karena kita menginginkan keadaan
yang lebih baik, mengarah kepada suatu tingkat kesempurnaan sejati.
Semua orang mengejar kesempurnaan, semua orang ingin tampil sempurna,
everybody wanna be perfect.
Dan tanpa kita sadari bahwa kita seperti pejuang yang nyaris kalah perang,
karena dalam setiap kesempatan, mungkin seumur hidup kita , kita selalu
membudakkan diri karena mengharuskan diri kita menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Kita sangat kejam memperkosa diri kita sendiri untuk berbuat
sesuatu yang kita kira akan membahagiakan padahal sesungguhnya akan
menjadi menyedihkan, melelahkan, bahkan bisa membuat kita putus asa.
Tanpa perenungan yang bermakna, mudah bagi kita terjebak dalam suatu
perangkap yang berjudul : ….mimpi buruk kehidupan kita …
Inilah yang akhirnya membuat hidup kita menjadi tidak tenang. Kacau.
Alih-alih bukannya merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki,
tetapi kita malah memfokuskan diri kepada apa yang salah atas sesuatu
dan keinginan kita untuk memperbaikinya secepat mungkin jika bisa.
Ketika kita memusatkan pada apa yang salah, sesungguhnya ini menun-
jukkan bahwa kita sedang tidak puas diri dan sedang tidak bahagia.
Dalam banyak hal, entah itu berkaitan dengan diri kita sendiri, misalnya
keluhan akan penampilan fisik, atau tentang rendahnya kepuasan kerja,
tentang harus kesal karena mobil tak sempat dicuci, sebal karena barang-
barang tidak berada pada tempatnya, Seharusnya lebih baik dari ini.
— atau pada ketdak-sempurnaan orang lain, —cara menilai, berperilaku,
atau cara menjalani hidup — tindakan yang selalu berfokus pada ketidak
-sempurnaan ini akan membuat kita makin menjauh dari tujuan untuk
menjadi lebih baik, lebih sempurna dan lebih berlembut hati.
Perlu dicatat bahwa strategi ini tidak ada hubungannya dengan dengan
sikap harus berhenti melakukan yang terbaik, tetapi berhubungan dengan
sikap yang terlalu terikat dan berfokus pada apa yang salah dengan kehidupan.
Ini adalah tentang hal menyadari bahwa ketika ada cara lain yang lebih baik,
BUKAN BERARTI bahwa kita tidak bisa menikmati dan menghargai hal-hal
yang sudah ada dan terjadi pada diri kita.
Solusinya adalah BERHENTI membiarkan diri terperangkap dalam kebiasaan
buruk selalu memandang/berpikir bahwa segala sesuatunya SEHARUSNYA
terjadi dengan cara LAIN, selain cara yang dalam kenyataannya telah terjadi.
Lebih baik ingatkan diri kita bahwa kehidupan ini akan baik-baik saja, walau
kita saat ini berada dalam kondisi seperti sekarang.
Kita tak perlu terus menerus menilai bahwa segala sesuatunya sudah benar
atau masih salah, biarkanlah, karena semuanya akan baik-baik saja.
Everything will be Okey….Everything is gonna running well…
Dan bersyukurlah bahwa ketika kita sadar dan memulai membuang hasrat
meraih kesempurnaan dalam hidup kita, maka sesungguhnya kita sudah
dekat, dan makin dekat lagi kepada kesempurnaan hidup itu sendiri…
Suatu keadaan yang kebetulan sangat kita dambakan dalam hidup ini, yaitu
sebuah kebahagiaan yang hakiki yang mengalir sesuai irama alam.
Jadi sekali lagi, Ketidak-sempurnaan itu indah…(pula)
…………Jakarta, 21 Oktober 2006
*ketidak-sempurnaan itu ternyata indah …
*SELAMAT IDUL FITRI 1427 H, Mohon Maaf Lahir Batin..
semoga kita dipertemukan kembali pada Ramadhan Tahun depan.
Insyaallah. amin.
“A happy person is not a person in a certain set of circumctances,but rather a person with a certain set of attitudes.”
Sikap ini yang bisa membuat kita bertemu dengan kedamaian di setiap langkah(Gede Prama)
Dan benar kata mbak Rere, bahwa kita seharusnya membangun monumen2 syukur di setiap langkah kita untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki yg mengalir sesuai irama alam.
The grand essentials of happiness are :
something to do,
something to love,….and
something to hope for
Ini dia…BLOG DAHSYATNYA MADAM RERE…
bener banget madam…
ketidaksempurnaan itu sebenarnya indah…:)
detailnya japri aja ya madam…
BIG HUGS
lotss of loveee
Marco