Archive for March 6th, 2007

06
Mar

… perempuan cacat


perempuan itu aku, jauh dari kesempurnaan
aku perempuan biasa, teramat jauh dari istimewa

salahkah aku, jika
kujaring beberapa genggam ilmu dari sekolah kehidupan
kubertanya jawab pada alam semesta, ialah guruku
yang mengajariku temukan rumusan inti bak permata kalbu
bicara tentang ‘cara’ 

salahkah aku, ketika
kerikil tajam telah menoreh dinding hidupku
luka memar menghitam indah menghiasi hatiku
lalu memaksa kehendak jiwaku belajar teguhkan diri
menghargai apa yang telah kumiliki
menggapai apa yang seharusnya kumiliki
dan menjadi apa yang sesungguhnya kuinginkan

bergumul di antara
………… ke-bisa-anku dan ke-biasa-anku
       ke-bisu-anku dan ke-bingung-anku
………… ke-bodoh-anku dan ke-bohong-anku
       ke-tuli-anku dan ke-peduli-anku
untuk memahami dan memaknai hikmah
rona rupa warna kehidupan ini

perempuan itu aku,
terbiasa dimaki, dicaci, diludahi, direndahkan,
bahkan dipermalukan, dibenci, dijauhi, dan dikucilkan,
karena aku perempuan cacat ini, sangat tak tahu diri
telah jatuh terpesona pada  keindahan warna kebenaran
memang sungguh tak tahu diri aku ini

dalam kebisuanku,
aku harus lantang bicara tentang hal sebenarnya
dalam ketulianku,
aku harus mendengarkan suara kebenaran
dalam kebodohanku,
aku harus bertindak dengan cara yang benar

lunglai aku tersenyum dalam keprihatinan panjang
ikhlasku menerima buah kemenangan nuraniku
sekaligus buah hukuman bagi kesalahan terbesar-ku
di mata  ‘mereka’, atau sebagian dari  ‘mereka’

perempuan cacat itu adalah aku
kini tinggal menanti waktu hukuman matiku
ingin kutinggalkan kebenaran untuk ‘mereka’
namun mereka menyuruhku membawa serta.

Jakarta, 03 Maret 2007  \  sesungging senyum dalam hidup
inspirasi :
sebuah wacana  (menggelikan??)
ketika ego lelaki tidak mampu menerima kelebihan perempuan
ketika ego lelaki berkata kami hanya butuh perempuan goblok.


06
Mar

sajak ini entah untuk siapa..


saat ini aku termangu di depan selembar kertas putih
ingin aku tulis apa yang ingin kukatakan, kumohonkan,
tetapi…entah kepada siapa mesti kualamatkan…
aku sungguh-sungguh tak tahu…

pintu pertobatan telah lama terbuka lebar
menantikan langkah kita menyentuh antaranya
tetapi mengapa kita berjalan mundur, menjauh…
selalu langkah kita berjalan ke arah yang salah
entahlah…mungkin  hati kita, pikiran kita atau jiwa kita
yang terlalu malu untuk mengakui kesalahan dan dosa.

seharusnya kita berlari kencang menuju ke sana
membiarkan hati kita menangis mendahului kedua mata
melantun doa pertobatan sebelum bibir sempat berdzikir

tiada tahu hingga kapan masa berjaya kita terhempas usai
sementara pesta pora khilaf kian bergelamor benderang
jarak  ketakaburan dengan sujud tertunduk kian terpaut jauh
sementara suara hati berbisik semakin lirih terkucil
janganlah menjauh dari yang terdekat dengan kita
jangan mendekat yang seharusnya kita berlari sejauhnya

pintu itu masih terus terbuka dengan kasih sayang Allah
dengan kesabaran yang hanya Dia yang Maha Mengetahui
menantikan langkah-langkah kebenaran menuntun kita
ataukah
sampai di mana kesalahan-kesalahan kita akan terhenti
bila kita sendiri tak hendak tergoda untuk mengakhiri.

Jakarta, 07  Maret  2007 \ Pagi yang masih selalu berkabut duka…
——————————————————————————-
*mungkin sajak ini muncul karena rasa  kesedihan dan
keprihatinan untuk semua peristiwa memilukan di depan mata
mungkinkah  sajak ini sebaiknya
untuk para pemimpin, dan pembantunya
untuk rakyat, anak-anak bangsa,
untuk orangtua, untuk anak, untuk saudara,
untuk mu, dan terlebih akan kutujukan pada diriku sendiri,
yang mula tak sempurna kian tak sempurna
untuk mengingat semua kesalahan-kesalahan kita …




 

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives

Pages