perempuan itu aku, jauh dari kesempurnaan
aku perempuan biasa, teramat jauh dari istimewa
salahkah aku, jika
kujaring beberapa genggam ilmu dari sekolah kehidupan
kubertanya jawab pada alam semesta, ialah guruku
yang mengajariku temukan rumusan inti bak permata kalbu
bicara tentang ‘cara’
salahkah aku, ketika
kerikil tajam telah menoreh dinding hidupku
luka memar menghitam indah menghiasi hatiku
lalu memaksa kehendak jiwaku belajar teguhkan diri
menghargai apa yang telah kumiliki
menggapai apa yang seharusnya kumiliki
dan menjadi apa yang sesungguhnya kuinginkan
bergumul di antara
………… ke-bisa-anku dan ke-biasa-anku
ke-bisu-anku dan ke-bingung-anku
………… ke-bodoh-anku dan ke-bohong-anku
ke-tuli-anku dan ke-peduli-anku
untuk memahami dan memaknai hikmah
rona rupa warna kehidupan ini
perempuan itu aku,
terbiasa dimaki, dicaci, diludahi, direndahkan,
bahkan dipermalukan, dibenci, dijauhi, dan dikucilkan,
karena aku perempuan cacat ini, sangat tak tahu diri
telah jatuh terpesona pada keindahan warna kebenaran
memang sungguh tak tahu diri aku ini
dalam kebisuanku,
aku harus lantang bicara tentang hal sebenarnya
dalam ketulianku,
aku harus mendengarkan suara kebenaran
dalam kebodohanku,
aku harus bertindak dengan cara yang benar
lunglai aku tersenyum dalam keprihatinan panjang
ikhlasku menerima buah kemenangan nuraniku
sekaligus buah hukuman bagi kesalahan terbesar-ku
di mata ‘mereka’, atau sebagian dari ‘mereka’
perempuan cacat itu adalah aku
kini tinggal menanti waktu hukuman matiku
ingin kutinggalkan kebenaran untuk ‘mereka’
namun mereka menyuruhku membawa serta.
Jakarta, 03 Maret 2007 \ sesungging senyum dalam hidup
inspirasi :
sebuah wacana (menggelikan??)
ketika ego lelaki tidak mampu menerima kelebihan perempuan
ketika ego lelaki berkata kami hanya butuh perempuan goblok.
Recent Comments