saat ini aku termangu di depan selembar kertas putih
ingin aku tulis apa yang ingin kukatakan, kumohonkan,
tetapi…entah kepada siapa mesti kualamatkan…
aku sungguh-sungguh tak tahu…
pintu pertobatan telah lama terbuka lebar
menantikan langkah kita menyentuh antaranya
tetapi mengapa kita berjalan mundur, menjauh…
selalu langkah kita berjalan ke arah yang salah
entahlah…mungkin hati kita, pikiran kita atau jiwa kita
yang terlalu malu untuk mengakui kesalahan dan dosa.
seharusnya kita berlari kencang menuju ke sana
membiarkan hati kita menangis mendahului kedua mata
melantun doa pertobatan sebelum bibir sempat berdzikir
tiada tahu hingga kapan masa berjaya kita terhempas usai
sementara pesta pora khilaf kian bergelamor benderang
jarak ketakaburan dengan sujud tertunduk kian terpaut jauh
sementara suara hati berbisik semakin lirih terkucil
janganlah menjauh dari yang terdekat dengan kita
jangan mendekat yang seharusnya kita berlari sejauhnya
pintu itu masih terus terbuka dengan kasih sayang Allah
dengan kesabaran yang hanya Dia yang Maha Mengetahui
menantikan langkah-langkah kebenaran menuntun kita
ataukah
sampai di mana kesalahan-kesalahan kita akan terhenti
bila kita sendiri tak hendak tergoda untuk mengakhiri.
Jakarta, 07 Maret 2007 \ Pagi yang masih selalu berkabut duka…
——————————————————————————-
*mungkin sajak ini muncul karena rasa kesedihan dan
keprihatinan untuk semua peristiwa memilukan di depan mata
mungkinkah sajak ini sebaiknya
untuk para pemimpin, dan pembantunya
untuk rakyat, anak-anak bangsa,
untuk orangtua, untuk anak, untuk saudara,
untuk mu, dan terlebih akan kutujukan pada diriku sendiri,
yang mula tak sempurna kian tak sempurna
untuk mengingat semua kesalahan-kesalahan kita …
0 Responses to “sajak ini entah untuk siapa..”
Leave a Reply