Archive for April, 2007

29
Apr

… pasangan rasa …

sedih adalah pasangan bahagia
sedih datang, ketika bahagia pergi
…..keduanya  itu,  sedih dan bahagia, 
bersahabat  erat
dan
bersemayam di dalam diri kita

lalu 
masih  perlukah  kita  keluar mencari diri,
saat sedih dan bahagia silih berganti menemani?
tidakkah lebih baik kita menunduk, dan menuju
serta  bereksplorasi jauh ke kedalaman diri,
menemukan titik-titik  koordinat inti pasangan rasa,
karena sesungguhnya,
kebahagiaan itu pasti akan muncul,
manakala kesedihan berlalu…pergi

12047

dan 
mungkin suatu saat  nanti
kita harus bersiap menyambutnya,
manakala ia kan datang bertandang lagi
menggantikan  pasangannya,
yang mungkin saja akan pergi juga …
….
begitulah silih  berganti  berpasangan
mewarnai  nuansa  perjalanan sebuah  diri

—– Jakarta 28 april 2007 \ By KUNING - LANG

28
Apr

rindu isian ….

jauhi aku, pergilah
      jika engkau berada di dekat ku
jauhi aku, jangan beranjak menuju ku
      jika engkau ingin bersama ku
jauhi aku, bangunlah dari tidur mu
      jika aku ada dalam mimpi mu

dan esok hari  kuharap  engkau
membuka mata dengan riang cakrawala baru
jalani kehidupanmu yang sebenarnya
…..tanpa aku
tanpa nama ku
tanpa impiam mu
tak ada impian kita, tentang kita

Img209

engkau manusia merdeka, begitu juga diriku.
walau mungkin saja aku adalah
       secercah cahaya untuk sisi gelap jiwamu
              episode terindah dalam kisah hidupmu
                    pelukis warna dalam buku-buku kosongmu
             pelantun kidung-kidung mesra bagi semangatmu
      penari gemulai yang membelai hasratmu

mungkin juga
aku adalah bagian mimpi burukmu

aku tak bisa mengingkari kata hati
aku berpacu mengejar buah nurani
jauhi aku…tinggalkan aku….lupakan aku
kini aku ingin bersama diriku sendiri
biar kubercumbu dengan imaginasi jiwaku
memenuhi kekosongan yang ditinggalkan (mu)

       

Jakarta, 28 April  2007 \  jangan cintai aku seperti itu.

26
Apr

the journalist…


WHO’S THE JOURNALIST?
By
Anthony Sanchez

In the old days, it was easy to recognize who was a journalist,

one belonging to that class of elite individuals who could
bring down a
president with their powerful craft:
simply look for the notebook and the press
card stuck into
the side of a fedora. But digital technology has turned
everything
upside down, and those days are long gone.
That, and no one wears
fedoras anymore.

 

Now, with a digital camcorder, a computer, and an Internet
connection, anybody can be boat-rocker by capturing a Macaca
moment or bringing
attention to Don Imus’ racist broadcast
on their blog. So the question must be
asked:
just who is a journalist, nowadays?

It is an important question in light of both the jailing
of
videoblogger Josh Wolf (now free after 226 days in jail)
for refusing to comply
with a subpoena for his unaired footage
of a 2005 demonstration, and the
ongoing debate over
a federal shield law to create a journalistic privilege to
protect
the sources and methods of journalism from compelled disclosure.
It is
here that the definition of a journalist begins to matter:
to whom would this
journalistic privilege apply?


However, defining a journalist is no easy task, and many have
qualms about the very prospect of inviting the government
to define a
journalist. To them, the act is a form of licensing,
and therefore an affront
to the First Amendment.

As Floyd Abrams, a legendary First Amendment lawyer who argued
for a journalistic privilege in the Supreme Court case Branzburg v.
Hayes, has
said, “…merely determining the scope of the privilege
(when would it apply?)
and identifying who would receive it …
[are] difficult matters at best.”

Indeed, defining a journalist is risky business. Any
governmental
definition of a journalist could either be too narrow and
exclusionary,
failing to account for changes and nuances
(such a freelancer or
bloggers), or too broad, with the unintended
consequence of granting a blanket
testimonial privilege to anyone
who can claim to be a journalist.

For example, California’s shield law, which is codified in the
state
constitution and attempts to define a journalist, faces the problem
of
exclusion.  A journalist is defined as
“a publisher, editor, reporter or other
person connected with
or employed upon a newspaper, magazine, or other periodical

publication.”
It is these people, the law goes on to say, who
“ shall not be
adjudged in contempt…for refusing to disclose
the source of any information
procured while so connected or
employed for publication in a newspaper,
magazine or other
periodical publication, or for refusing to disclose any
unpublished
information obtained or prepared in gathering, receiving or

processing of information for communication to the public.”


Whether a freelancer who writes while not connected to a news
organization (like Josh Wolf) or an individual who produces
a piece of
journalism only once on his blog is a journalist
is not entirely clear by the
state of California’s definition.
Is a blog considered a “periodical
publication”?

When I asked Kevin Bankston, a staff attorney for the Electronic

Frontier Foundation, whether or not bloggers are journalists,
he succinctly
responded,
“Yes. A blogger is a journalist if they are doing journalism.”

Bankston’s response is an interesting one as it shifts the focus

from the question of who is a journalist, to the question of
“what is
journalism?” I asked Bankston if a good legal definition
of journalism existed.
He responded that a flexible definition
came from a case in which the Ninth
Circuit and Second Circuit
Federal Courts of Appeals attempted to determine
when to apply
a First Amendment journalists’ privilege.

The courts determined that the journalists’ privilege applied

when “the person seeking to invoke the privilege had ‘the intent
to use
material - sought, gathered or received - to disseminate
information to the
public and [that] such intent existed at the
inception of the newsgathering
process.’
If both conditions are satisfied, then the privilege may be invoked.”

Bankston argued that this definition “correctly recognizes that

what the First Amendment protects here isn’t a person or
a sector of the media
but the act of journalism.”
Furthermore, he said, the decision discriminates
neither
on the basis of whether the person doing journalism is
a professional
or amateur, nor on the basis of the medium used.


Bankston is on to something here. The First Amendment
does not
favor one class of individuals over another.
If anybody can do journalism at
any time, then the entire
debate of protecting journalism has been mistakenly
focused
on the exclusionary, who part of journalism rather than
the what part
of journalism.

The constant advent of new technologies means that journalism
is
a rapidly changing field. The definition of a journalist,
if codified under the
federal shield Law, must be flexible enough
to allow for these changes in the
reporting business and be rooted
in what is journalism.


So who is a journalist?
A journalist is simply someone who does
journalism —
who gathers news and information for the purposes
of dissemination
to the public.

*** Anthony Sanchez is the director of the Center on Media
for the Roosevelt
Institution at Stanford. He is a senior in
Communications and Creative Writing

22
Apr

sebuah Kesediaan


malam ini, udara di luar sana terasa menusuk tulang
namun masih ada getar kehangatan yang terkumpul menjadi
selimut  kasih di kedalaman sanubari ini,
hingga mampu membiaskan secercah  senyum tersimpul.


Kuingat kembali sebuah ungkapan :

        ….KESEDIAAN  MEMBERI…..
         ITU  LEBIH  PENTING  ARTINYA
                               DARIPADA 
              PEMBERIAN  ITU  SENDIRI ….


Benarlah….namun  sayangnya  kita  terkadang
kurang  menyadari  dan  tidak  menghargai
seberapa  besar  pengorbanan  seseorang 
untuk  sampai  pada  SEBUAH KESEDIAAN…
….. sebuah SIKAP MEMBERI   kepada  yang lain
mungkinkah ini,
karena kita  terlalu mengingat apa yang kita harapkan
LEBIH DARIPADA  apa yang  telah kita dapatkan
hingga kita LUPA  MENAKAR  KESEDIAAN DIRI  kita  sendiri
bagi  banyak orang .

* sungguh benar kita ini  manusia yang  terbiasa  alpa
  ……… SELAMAT MALAM  ……
   untukmu  wahai kesunyian yang bersuara,
   Walau  malam ini  masih  jua  tak  berbintang,
   namun tak seredup  kemarin.

 

 
                  ———   Jakarta, April 2007 \ RR, dini hari
 

 

Dkun01

Kuingat kembali sebuah ungkapan :

….KESEDIAAN MEMBERI  ITU LEBIH PENTING ARTINYA
DARIPADA PEMBERIAN ITU SENDIRI ….


CINTA  itu  HANYA MEMBERI, …..  TAK ADA BALAS JASA
CINTA  itu  HANYA BERJUANG, …..TAK ADA PENGORBANAN

………CINTA  bukanlah   KOMODITI DAGANG,
                                  ATAU   INSTRUMENT INVESTASI.


WASPADALAH
   terhadap   PERMAINAN   CINTA….
    karena    CINTA   
bukanlah   KONSEP  MENTAH
karena   CINTA 
 bukanlah   SEKUMPULAN  RUMUS
            

CINTA itu  sesungguhnya  adalah
             ……  lebih merupakan 
AMALAN   PERBUATAN.
( dan amal itu sebagian berwujud kesediaan memberi \RR )


-
   
           ———–
By 
KUNING , Jakarta 2007 \  Pagi ini….

16
Apr

batin yang terpaut

dekat walau hanya sebatas angan
jauh pun  menjadi bayangan diri
dekat tak tercakup, jauh melekat dalam hati
berdampingan bagai menangkap angin
berseberangan namun  mengelus jiwa

Ge10310s

celah antara jarak dan sela waktu
wadag bicara tentang  kedekatan atau kejauhan
menjadi kompas  bagi material
berbeda untuk disatukan atau dipisahkan

jarak rasa adalah jalan menjala  batin
jauh dan kejauhan , dekat dan kedekatan
hanyalah sudut pandang antara lahir dan batin
terbatasi ruang dan waktu

sedangkan sebuah rasa, tetaplah menjadi rasa
bisa saja tak tergiur jerat  kewadagan
mungkin itulah sejati keterpautan batin

– jakarta, 17 april 2007   (HAPPY BIRTHDAY KENANGAN )

14
Apr

apa yang engkau cari?

apa yang engkau cari, temanku?
sering engkau muncul, dalam  pandang mataku.
adakah engkau ingin aku merengkuhmu dalam pelukanku?,
        menghiburmu dengan kata sayang palsu,
        atau juga kata cinta murahan omong kosong?
adakah engkau ingin aku mengasihani dirimu
yang hanya akan membuatmu kian merasa lemah.
dan aku sangat membenci kelemahanmu,
         aku bosan mendengar keluhan-keluhanmu
         aku muak menangkap rengekan pesimismu
aku malas menanti indahnya rentetan angan kosongmu

Xm43b

apa yang engkau cari, temanku?
engkau mau tahu kebenaran menurut aku?
mungkin bukan kebenaran bagi dirimu?
walau juga mungkin bukan kebenaran hakiki?
engkau patut dikasihani, walau engkau tak layak,
itulah dirimu…
selalu mencari dan mencari yang tidak kau lihat dan rasa
engkau mencari hal-hal yang sesungguhnya telah kau miliki
bagaimana engkau bisa berpengharapan dalam pencarianmu
sedangkan nyata mata hatimu tertutup jelaga kabut angkara
hingga karunia pun kau anggap petaka.

salah kaprah…keliru terparah…tak jua engkau  berubah.
itu yang ternampak dalam wujud diri keberadaanmu
selalu melihat dari arah sudut yang membingungkan
membuatmu berkabut memandang terang kehidupanmu
tak inginkah  engkau kembali pada kedalaman jiwamu?
menengok jika ada yang terlupakan atau terbengkalaikan
karena engkau terlalu sibuk mengasihani dirimu sendiri
dengan cara-cara yang menghinakan kekuatan dirimu

                  
                   penjamkan mata ragamu,
                 namun bukalah mata hatimu
           berdiamlah sejenak dalam saat-saatmu
               semoga engkau akan menemukan
            apa yang engkau cari selama ini, yaitu
            kesadaran untuk melihat dirimu sendiri
                  penuh dengan rasa kesyukuran.

—Jakarta, APril 2007 \  mengingat dirimu, teman….
  HAPPY BIRTHDAY ….

12
Apr

terbangnya KUPU-KUPU


              bagaikan primadona di panggung semusim
          kemana arah terbang kepakan sayap indahmu itu
              kuntum bunga mana yang menarik hatimu
       taman kembang siapa  membius tawarkan wewangian?
            ataukah hanya sekedar terbang meledek awan

Kn489

   siapa pahami arah gerakan terbang merdekamu
            pabila engkau ringan melayang searah hatimu
                 ataukah
                       mungkin terbawa angin melambungkanmu?
                  jelajahi segenap horizon yang membuka cakrawala
            seakan semuanya ada, seakan semuanya bermakna
       adakah yang mampu menahan lajumu?
               siapa bisa merampas kebebasanmu?
                   yang bukan hendak mencapai bintang
                         karena
 engkau tahu kekuatanmu
               yang hanya semusim

            namun
sekedar berbagi sinar lembut rembulan
                   yang menyejukkan udara di rembang petang
                 serta menikmati keindahan malam kemudian

                  ***sayap-sayapmu demikian indah bercahaya
                 walau terkadang terluka atau tergores alamiah
                     itu sudah suratan hakikat keberadaanmu
                 yang hanya semusim lalu saja hingga engkau
                 beralih rupa mungkin menjadi lebih bermakna
                           bagi kehidupan selanjutnya…

….. Jakarta, 12 April 2007  \ malam berbintang cuma satu

12
Apr

bicara tentang ANAK


ANAK?….
siapakah anak itu?

benda seperti apakah anak itu?


adakah dia berbentuk kecil, ataukah dia lebih besar dari itu
seberapa besar dia, atau seberapa kecil dia?

dalam setiap ingatan dan pemikiran kata ‘ANAK’
itulah yang terbanyak terkesan dalam diri kita
benarkah anak adalah manusia?
kecil? atau besar?
adakah ia berwujud ataukah hanya ‘kesan’?

anak…anak…anak…
bukanlah melulu bicara tentang tubuh kecil mungil, si bayi
atau sebuah usaha berkantor besar , anak perusahaan
bukan orang dewasa pekerja yang disebut anak buah
bukan tentang sebuah suku di dalam bangsa, anak dalam

                 anak negeri
                             anak sungai
                                          anak alam

                       anak kandung
                    anak tiri
          anak angkat

Sepanjang kehidupan kita,
       mungkin kita mengenal banyak  bentuk anak,
                namun….
            adakah kita sadari bahwa kita juga adalah anak?

walau kita tak bayi  lagi
walau kita tak lucu lagi
walau kita menjadi sangat menyebalkan
walau kita menjadi sangat menjijikkan

karena sungguh benar, dalam kehidupan yang kita jalani
kita hanyalah anak…

kita adalah anak kehidupan.
yang selalu terus mencari  dan menemukan  makna hidup
karena  itulah kita selalu dalam proses pembelajaran

yang tak pernah terhenti sampai jiwa kita berhenti

bisa jadi benat,  kita ini sesungguhnya anak sekolahan
tanpa tahu apakah kita beroleh kelulusan atau tidak

                                                         ( RERE, Jkt 2007)

861021_anak

 

Anak Dalam Roda Kehidupan

Anak - anak yang
suram berkumpul di sudut ruangan
Anak - anak yang bercahaya bebas berkeliaran di jalan
Hidup di bawah naungan kekuasaan marga keluarga
Membuat mereka bebas melakukan semaunya

Merasa diri mereka
paling terhormat
Merasa diri mereka paling hebat
Anak - anak suram hanya bisa sembunyi
Berdoa agar selamat dari anak - anak bercahaya

Apa yang harus
dibanggakan ?
Apa yang harus ditakuti dari anak - anak itu ?
Kita semua sama
Kita akan kembali ke tanah

Kelak di masa depan
Anak bercahaya tetap berjaya
Dan anak suram pasti menjadi sampah
Roda hidup terus berputar
                                                        —(sebuah inspirasi)

 

anak bercahaya, anak suram….
adakah kehidupan selalu mampu
memberikan cahaya bagi sebuah kesuraman ini?

            
                
                
                
                
    

——  Jakarta, 12 April 2007 \ kita hanya anak kehidupan.

11
Apr

dewi senjaku

‘….adakah rasa cinta di hatimu? ….’
singkat dalam kalimat pesan  itu  membuatku terlunjak
terang gerimis sore tak berbekas hingga malam ini

lalu …angin selatankah yang membuatmu terbangun
dari tidurmu yang sedemikian panjang, hingga
kau biarkan angin sebarkan bisikan jiwamu
yang mungkin takkan terdengar telinga  siapa pun
kecuali hanya  jiwa-jiwa yang berdampingan…

lalu…
kulanjutkan pendengaranku atas dan melalui
bisikan bayu putih


……

sungguh, aku ingin dunia mengetahui isi jiwaku
kejujuran yang kupertaruhkan dalam ketenanganku
yang mungkin takkan pernah kau percayai diriku
bahwa
…..aku sayang padamu…..

sungguh aku mencintaimu, …..
meski dengan caraku  yang sederhana , selalu
kutujukan sepenggal cinta yang masih tersimpan dan
tertempel di sepanjang lorong gelap hatiku
yang kupungut kembali dari serpihan kepercayaan
yang masih terkumpul di ujung perasaan,
untukmu

pendendang kidung hati dan magma inspirasiku

demi kecerahan semangat dan lilin pijar hidupku
walau tetap berbayang samar menghitam, biarkan saja

tetap samar, karena aku tak ingin mengotori cintaku ini.

sebagian cintaku telah muspra oleh kebohongan masa lalu
yang hingga kini kusesali untuk waktuku yang terbuang
yang membuatku harus berjalan gontai lemah dan lamban
sesalku makin jauh saat aku tertinggal jejak langkahmu
manakala aku ingin merengkuh dan menjajari cintamu
mengundangkan ke semesta tentang persembahan cintaku


dewisenjaku,

terimakasihku untuk semua perhatian dan kasih sayangmu
telah  memahamiku sebagaimana adanya aku
seorang kelana sederhana yang hanya punya sepotong cinta
dan semangat untuk keberuntungan masa mendatang
terimakasih.

Madame_recamier_1805

 

 

 




… angin membelai rambut yang kian memendek itu
memandang laut biru yang menorehkan  jejak-jejak lalu.

sementara kemudian ,
pesan terakhir,  ataukah penetapan terakhir  datang,


dirimu keliru, cinta utuh itu telah kugenggam lagi
sudah kuminta kembali sejak lama, namun kuingin
memupuknya hingga lebih subur dan berkembang
hingga semuanya…hanya untukmu, dewi senjaku
tidak ada yang lain. tak akan pernah ada lagi

          ————- Jakarta, Awal  Tahun 2007
goresan pemahaman tentang sebuah jiwa kesepian

05
Apr

semasa perjalanan…


PETUALANGANKU

Terlarut aku dalam kesendirian…….

Ku tinggalkan segala beban…….

Ku lepas baju baju ku…….

Ku ingkari janji janji palsu duniaku…….

Ku lepas semua atribut tubuhku…….

Aku terus berjalan,
Setapak demi setapak,

Kulucuti semua yang melekat di tubuhku

Pikiranku, Perasaanku, Naluriku,

Dewa-dewiku, Kekasih-kekasihku,
Pencaharian-pencaharianku.


Kubertanya…apakah ini kemerdekaan?


Kutinggalkan symbol-simbol narapidanaku

Ku terus berjalan,
Ku terus berpetualang,

Berjalan…….berjalan terus…….
Tak ada rasa lelah…….

Tak ada rasa kesal…….

Tak ada rasa gundah,

Sunyi…….,
sepi……., tetapi bukan hampa.

Ada kedamaian nampak…….


Aneka ragam keindahan mulai bermunculan

Tak ada…….Tak kutemui,
mana kala aku terpenjara.

manakala aku terpidana tubuhku


Dan pada suatu titik
Aku berhenti sejenak….

Ternyata ku jumpai …


Cinta yang tak dapat kujelaskan lagi,

Rasa yang tak dapat kubagikan,

Cita yang tak dapat kujelaskan lagi,


Karsa yang tak dapat kuproposalkan,

Cipta yang tak dapat kujelaskan lagi,

Karya yang tak dapat kujual.

CINTA, CITA & CIPTA yang menyatu.


—– by Kuning , 05-04-2007 : 03.17

213122527l










dalam penglihatan :


hidup bagaikan peta buta lukisan langit
samar tak berbatas tegas, walau nampak nyata
rona rasa bagaikan deretan titik ozon lengkung horizon
semburatkan pendar samar warna bercermin hati
cukupkah masa menempuhi segala titik sempurna?
menjadikan kesempurnaan, walau nyanyian rupa
kian pucat tak berwarna, meski ia nyata berwujud
goresan pun ada karena kisah dan hikayat yang tercipta


THREE in ONE  …Cinta, Cita dan Cipta  memadu satu
dalam telanjang kepasrahan

 

——— RR\April 2007




 

April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Pages