kejujuran itu baik, bisa lebih baik
tak peduli untuk di anu atau si anu
bahkan demi si kebenaran sendiri
…. dengarkan wejangan nurani
genapkan dirimu sepeluk bunga kejujuran
wahai sungguh benar
terkadang kejujuran itu menyakitkan
akan sangat menyedihkan dan lebih menyakitkan
tatkala kejujuran menjadi sebuah pertaruhan
hidup dan mati
baik dan buruk
martabat dan kemarahan
kehilangan dan kebahagiaan
...jika hidupmu tak seperti yang kau inginkan…
tanyakan diri, dimana letak keliru itu
karena kekayaan murni manusia, yaitu kealpaan
masihkah kau dengar suara bening jiwamu?
atau hanya terdengar gema tawa riang setan belaka
di sebalik punggungmu
lagukan gending hasutan dan permusuhan
jika kukatakan apa yang ingin kuungkapkan
tentang apa yang kulihat, kurasakan, kusentuh
yang kualami, kupikirkan, kurenungkan, kukaji
adakah terlihat itu bagai sebuah kejujuran
ataukah terlihat bagai sebuah permusuhan bagimu?
lalu
adakah kejujuran itu sebuah kesalahan besar
malapetaka yang tak termaafkan hati lagi?
tiada manusia sempurna
dengan segenap ketaksempurnaanku
masih terus kucoba kukais puing-puing kejujuran
di antara serakan hingar bingar batu-batu kepentingan
aku tak lagi bisa diam bisu
melihat keterpurukan demi keterpurukanmu
kejujuran tentangmu,
terpeta dengan segala kasih
tertulis dengan sejuta harapan baru
dengan matamu yang terpenjam
dengan bibirmu yang terkatup rapat
dengan pikiranmu yang membatu
bahasa apakah yang mampu kau baca
entahlah …. atau itukah sebuah kesalahan
tatkala ketajaman setiap kata, setiap kalimat
yang kuharapkan mampu membangunkan tidurmu
yang terlena panjang dalam kepongahanmu
ternyata tajam melukai dan menohok tepat dijantungmu
dan
magma amarah meleleh muntah merah
menyembur berhamburan tak karuan
haruskan aku ikut larut tenggelam di sana
menanggung nasib burukmu?
menjadi tumbal kesengsaraanmu,
hingga aku terkubur dalam bara merah liarmu?
jika lalu kau merasa pantas menginjak diriku
karena kesalahanku, kejujuranku
akan kupahami dan kumaknai apa adanya begitu
seperti tertanam dalam benakku
… kau memang tak mampu berbuat lebih dari itu
hanya itulah batas prima karyamu..
dengan senyum kesombongan merekah di wajah
mampukah menambah keperkasaanmu yang semu?
tatkala
hasrat tertinggimu
kecemerlangan dirimu
menyatu bias sinar kesuramanamu
hanya karena merasa mampu
menggencet, menginjak, serta membakar hangus
diri perempuan seperti aku ini
yang tak pernah lelah berjuang melawan angkaramu
… tapi tak apa…
bagiku kau hanyalah pecundang sejati
dan apa pun berasal dari seorang pencundang
tak lebih baik dari uluran tengadah seorang pengemis
… sungguh tak berarti besar
tak akan membuat semangatku mati
semogalah menjadi kendaraanku melesat tinggi
dan membuatku jauh lebih kuat lagi
dari dugaanmu sebelum ini.
Jakarta, 2007
** tatkala kejujuran menjadi kesalahan
kehilangan besar pun terjadi
Recent Comments