Hidup adalah rangkaian kejadian-kejadian yang disutradarai oleh
Allah SWT.
Sejak awal hingga akhir cerita kehidupan,…..
panjang dan pendek cerita, mana pernah kita mengetahuinya?
Kita hanya harus menjalani semua yang tertuang dalam ketentuan
Allah SWT.
Apapun lakonnya, sesungguhnya itu tetap dan selalu
Sebagai karunia yang maha hikmah dariNYA…
namun,
kadang kita terlalu bodoh untuk memulai dari sudut mana kita
harus bersyukur…
kita terlalu cepat bicara IYA dan TIDAK, bahkan lupa ada kata MUNGKIN..
Semua kemungkinan bagi manusia adalah kuasa ALLAH SWT.
————–
SEBUAH KISAH KEHIDUPAN,
Pernah
ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin,
semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik.
Bahkan raja menginginkan hartanya itu.
Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.
Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi
orang tua itu selalu menolak: "Kuda ini bukan kuda bagi saya",
katanya:
"Ia adalah seperti seseorang.
Bagaimana kita dapat menjual seseorang.
Ia adalah sahabat bukan milik.
Bagaimana kita dapat menjual seorang
sahabat?"
Orang itu miskin dan menghadapi godaan besar.
Tetapi ia tidak menjual kuda itu.
Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya.
Seluruh penduduk desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh",
mereka mengejek dia:
"Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu.
Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin…
Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga?
Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja.
Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang
dan anda dikutuk oleh kemalangan".
Orang tua itu menjawab: "Jangan bicara terlalu cepat.
Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya.
itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian.
Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu?
Bagaimana Anda dapat menghakimi?".
Orang-orang desa itu protes:
"Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami
bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan.
Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan".
Orang tua itu berbicara lagi:
"Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi.
Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat,
….. saya tidak dapat katakan.
Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja :
Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang tua itu sudah gila.
Mereka memang selalu menganggap orang tua itu orang tolol; kalau tidak,
ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya,
ia hanya seorang tukang potong kayu miskin,
orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan
lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan,
tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali.
Sekarang nampaknya ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Apa
yang terjadi kemudian?
Sesudah lima belas hari, ternyata kuda itu kembali. Ia tidak di curi,
ia hanya lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa
serta sekitar selusin kuda liar bersamanya.
Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu
dan mengatakan: "Orang tua, kamu benar dan kami salah.
Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami".
Orang tua pemotong kayu itu menjawab :
"Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah
balik.
Katakan saja bahwa ada selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai.
Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat?
Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah
mengetahui seluruh
cerita, bagaimana anda dapat menilai?
Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku.
Dapatkah kalian menilai seluruh buku?
Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan.
Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan?
Hidup ini begitu luas, namun kalian menilai seluruh hidup
berdasarkan satu
halaman atau satu kata.
Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu
adalah berkat
. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu.
Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu".
"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang
lain.
Jadi mereka tidak banyak berkata-kata.
Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat.
Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit,
binatang-binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
bisa dijual untuk banyak uang.
Orang
tua itu mempunyai seorang anak laki-laki.
Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu.
Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya
patah.
Sekali lagi orang desa berkumpul disekitar orang tua itu dan menilai.
"Kamu benar", kata mereka: "Kamu sudah buktikan bahwa kamu
benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.
Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang
dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu…
Sekarang kamu lebih miskin lagi.
Orang tua itu berbicara lagi:
"Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi.
Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki.
Siapa yang tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu.
Kita hanya mempunyai sepotong cerita.
Hidup ini datang sepotong-sepotong….".
……. Maka segala sesuatu kehendak Tuhan pasti terjadi
dua minggu kemudian terjadilah petaka ,
negeri itu berperang dengan negeri tetangga.
Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara.
Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka.
Sekali lagi orang -orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis
dan berteriak sedih, karena anak-anak mereka sudah dipanggil negara
untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali.
Musuh sangat kuat dan perang itu tentulah akan dimenangkan musuh.
Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.
"Kamu benar, orang tua", mereka menangis :
"Tuhan tahu, kamu benar. Ini buktinya.
Kecelakaan anakmu merupakan berkat.
Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu.
Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".
Orang tua itu berbicara lagi :
"Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian.
Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu.
Katakan hanya ini:
….. anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak.
Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan.
Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui.
….Hanya Allah Swt Yang Maha Mengetahui yang tahu".
…..
Hikmah cerita yang bisa kita ambil adalah :
1.
Orang tua itu benar,
.….. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.
Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu
halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan
sampai kita
ketahui seluruh cerita…keseluruhan cerita..
2. Ternyata ..
.Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk kita.
Sebaliknya apa yang menurut kita buruk belum tentu jelek untuk kita.
….. Allah Swt yang Maha Mengetahui segalanya.
Jadi dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada-Nya,
maka hal itu akan membuat Hati kita menjadi lebih tenang, tentram,
damai dan bahagia…
3. Apa yang Allah SWT tetapkan menjadi milik kita akan MENJADI milik kita
walaupun orang-orang banyak yang menginginkannya juga.
…. Apa yang Allah SWT tetapkan BUKAN menjadi milik kita ,
akan menjadi bukan
milik kita , takkan kita miliki ,
walaupun kita berusaha dengan segala cara
untuk memilikinya…
Kita harus berusaha dengan sebaik-baiknya dalam melakukan
dan mengusahakan sesuatu karena hal itu masih dalam kontrol manusia
sedangkan bicara tentang HASIL adalah berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Kesuksesan
ditentukan oleh usaha ataupun kerja dan BUKAN pada hasil
atau pun perolehan. Jadi berusahalah dengan sebaik-baiknya
kemudian
bersyukurlah atas apa yang kita peroleh…
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing Hati kita
untuk selalu mengingat-Nya baik dalam keadaan senang maupun susah,
sedih ataupun bahagia…
agar Hati kita menjadi tenang, tentram, damai dan bahagia…
dan kita dapat melewai setiap episode dalam kehidupan ini dengan baik…
serta membuat diri kita menjadi semakin dekat kepada-Nya…
—– Jakarta, ketika kujejakkan kembali ke
bumi-mu, bumi-ku juga.
Dear TANTRA, thanks!!
Recent Comments