21
Apr
08

langkah mundur negeriku…

….Kita sudah memasuki zaman yang oleh Ronggowarsito
disebut sebagai zaman edan. Jaman Gila!!
Betapa tidak, di negeri sesubur dan sekaya Indonesia,
masyarakatnya berjejer antre minyak dan beras.
Busung lapar dan kelaparan terjadi di berbagai wilayah.
Atas semua itu, rasa-rasanya pemerintah nyaris
tidak bisa berbuat apa-apa.

Operasi bahan-bahan pokok tidak memperoleh hasil maksimal.
Yang miskin tetap saja makan nasi aking. Mereka yang antre
beras itu sebagian besar juga para petani kita dan mereka
yang antre minyak itu adalah rakyat yang memahami bahwa
Indonesia adalah negeri kaya raya dengan sumber alamnya,
termasuk potensi minyak di dalamnya.

Bagaimana ini semua bisa terjadi?
Jawaban klasik yang selalu mengandung kebenaran adalah
karena kelalaian pemerintah dalam menegakkan ketahanan
bahan dasar pokok.
Ketika segala sesuatu diselesaikan atas nama tekanan ekonomi
internasional dan subsidi atas bahan-bahan pokok juga
dilakukan ‘atas nama rakyat’,… pada akhirnya bisa disaksikan
semua kegagalan itu menjadikan rakyat sebagai korban.

Pencabutan subsidi BBM dilakukan, impor beras, konversi minyak
tanah, dan lainnya dilakukan demi kesejahteraan rakyat.
Logika ini begitu pelik dan susah dipahami rakyat.
Faktanya adalah kesulitan demi kesulitan. Betapapun mulia niat
pemerintah bila diterapkan dalam situasi yang membuat rakyat
menderita, maka kemuliaan itu tak pernah diapresiasi rakyat
sebagai langkah sungguh-sungguh kecuali…. lagi-lagi menjadikan
rakyat miskin sebagai korban.

Daulat kita ditekuk. Kita bahkan hampir tidak lagi memiliki
kedaulatan  untuk menentukan masa depan. Itu merupakan
dampak fatal  ketika roda ekonomi dikendalikan oleh mereka
yang berdiri di balik serambi liberalisme. Demi itu semua,
semua produk kebijakan  dibuat untuk melindungi kepentingan
dirinya dan atau kelompoknya.

Ujung-ujungnya adalah mencabut subsidi rakyat miskin.
Privatisasi dan swastanisasi sudah merambah hampir semua
sektor kehidupan yang berkepentingan bagi  rakyat.
Inilah yang membuat bencana bagi rakyat miskin. Air, tanah,
dan udara bukan milik semua, melainkan milik orang kaya.

Di sisi lain, ketidakmampuan pemerintah menghapuskan biaya
tinggi (hight cost) di berbagai sektor itulah yang membuat kita
menjadi sulit keluar dari krisis, termasuk kebijakan kenaikan
harga BBM pun tidak akan  mengubah nasib kaum miskin  menjadi
semakin baik. Kaum miskin hidupnya semakin tersisih dalam
daya tawarnya  terhadap kekuatan global yang sekarang ini telah
merasuki  kekuatan politik dan pasar.

Kekuatan global ini sekarang telah menguasai hajat hidup kehidupan
ekonomi kita.

** mau kemana kau indonesiaku…
** thanks untuk panji.




0 Responses to “langkah mundur negeriku…”


  1. No Comments

Leave a Reply




 

April 2008
M T W T F S S
« Feb   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Pages