sebuah kota yang lagi adem, 190208
rr , sebentaran lagi kamu akan niup obor.
tentunya dengan meminjam slogan deppen era orba dulu,
"api nan tak kunjung padam",
semoga spirit hidup, produktivitas dan juga kreativitasmu terus berkobar,
tanpa harus terbakar.
di moment ini pula kamu perlu merenung diri,
kenapa daerah di propinsi (asal muasalmu) yakni jatim ,
sering dirundung bencana tanpa henti.
di alam semesta ada 4 (empat elemen) yang membentuk fisik bumi
yang usianya "renta", milyaran tahun.
keempat elemen itu adalah: tanah, air, api dan kayu.
bencana yang menimpa jatim, provinsimu itu,
sudah "sempurna" karena memenuhi keempat elemen.
(1). lumpur (tanah) sidoarjo,
(2). api gunung kelud,
(3). air luapan bengawan solo yang merendam bojonegoro, dan
(4). kayu dari gelondongan kayu hutan yang menggelontor
dari air bandang situbondo.
Secara hakikat, provinsi jatim sudah mengalami bencana 4 fase,
yang berarti secara simbolis
kiamat alam semesta telah menggulung petilasan mojopahit kuno itu.
padahal di sana, di provinsimu itu.
begitu banyak pondok pesantren dan kyai yang mumpuni.
mengapa ini bisa terjadi,
mengapa mereka tak mampu menolak bala (bencana) dari langit?
apakah doa santri dan kyai di jatim sudah gak mumpuni dan makbul lagi?
satu hal,
bencana yang datang silih berganti di jatim adalah azab dari tuhan
karena masyarakat di situ banyak "menjual" tuhan
untuk kepentingan diri sendiri.
para kyai hanya repot berpolitik untuk mencari ketenaran
dan keonaran politisasi massa.
mereka tidak ngopeni ummat,
tapi malah membangun rumah magrong-magrong
atas nama proposal ketidakberdayaan ummat.
mereka hipokrit, mengingkari diri. mereka durhaka kepada tuhan.
meski ada di sana sini yang masih berada di jalan lurus,
tapi tuhan menimpakan azab sengsara ini sebagai dosa kifayah.
artinya, azab sengsara yang mesti ditanggung bersama.
sampai berapa lama lagi tuhan akan mencabut azab sengsara di jatim?
harus mas katakan, sampai munculnya tunas (generasi) baru yang bersih,
yang kembali mengesakan dan mengagungkan nama tuhan
dari bibir dan hatinya. kita tidak mengharapkan (lagi)
para kyai sepuh yang sudah banyak dikotori pamrih duniawi.
jadi rr sayangku, beritakan kabar penting ini ke jaringanmu di sana,
bahwa masyarakat jatim tak akan pernah bisa tidur nyenyak karena
akan terus menerus diterpa musibah, bencana, dan bala.
itulah azab sengsara yang paling nyata.
tuhan membasuh darah marsinah yang teraniaya di sidoarjo
dengan lumpur jutaan kubik.
tuhan membasuh kawasan bojonegoro dan situbondo
dengan banjir bandang dan luapan bengawan solo.
tuhan akan mencabut azab ini, bila ada pertaubutan khusyuk
dari generasi si "bau kencur" — belasan tahun —
yang memohonkan ampunan dari tuhan untuk menyesali
berbagai tumpukan kasus seperti marsinah dan juga
penganiayaan atas rakyat kecil tak berdaya.
sesungguhnya tuhan itu nyata dan ada bersama kita.
tapi para kyai sepuh di jatim, termasuk gus dur, hanya repot
dengan aksesoris pamrih duniawi: jabatan dan uang.
apa yang mas tulis ini bukanlah karya analisis penalaran, juga
bukan pula rekayasa wangsit. mas menuliskan ini karena
refleks spontanitas dan mengalir begitu saja.
mas-XX
—–
Terimakasih
untuk tidak bosan mengingatkan kealpaan-ku…
tiada insan sempurna memang,
namun lebih baik bagi yang mau berusaha
dan mengoreksi diri sendiri atas semua ketidak-sempurnaannya…
salam.
Recent Comments